Satu baris komponen yang hilang dari daftar kebutuhan material dapat menghentikan seluruh lini perakitan; pengadaan tidak memesan, gudang tidak menyiapkan, dan produksi menunggu. Bill of Materials (BOM) disusun untuk mencegah skenario tersebut serta menjadi fondasi data bagi setiap sistem manufaktur digital. Artikel ini membahas jenis-jenis BOM, contoh struktur bertingkat yang dapat diadopsi, serta alasan mengapa akurasi BOM sangat menentukan hasil perencanaan kebutuhan material.
Secara ringkas, Bill of Materials (BOM) merupakan daftar terstruktur yang mencakup seluruh bahan baku, komponen, dan sub-assembly, lengkap dengan kode item, kuantitas, dan satuan yang diperlukan untuk memproduksi satu unit produk jadi. BOM berfungsi sebagai acuan bersama bagi tim desain, produksi, pengadaan, dan keuangan, serta menjadi input utama dalam perhitungan kebutuhan material.
Jenis-jenis BOM dapat dipetakan berdasarkan dua sumbu utama. Sumbu fungsi dokumen membedakan Engineering BOM (EBOM), yaitu produk sebagaimana dirancang oleh tim engineering, dari Manufacturing BOM (MBOM), yaitu produk sebagaimana dibuat di lantai produksi. Sumbu kedalaman struktur membedakan single-level BOM yang hanya mencakup satu tingkat, dari multi-level BOM yang mencakup seluruh rakitan antara (sub-assembly).
|
Engineering BOM (EBOM) |
Produk sebagaimana dirancang: gambar teknik dan spesifikasi desain |
Tim engineering/R&D saat desain produk |
|
Manufacturing BOM (MBOM) |
Produk sebagaimana dibuat: komponen aktual, material kemasan, urutan perakitan |
Tim produksi; inilah “BOM produksi” sehari-hari |
|
Single-level BOM |
Satu tingkat: produk jadi dan komponen langsungnya |
Produk rakitan sederhana tanpa sub-assembly |
|
Multi-level (indented) BOM |
Bertingkat Level 0-1-2-dst.: produk jadi → sub-assembly → komponen/bahan baku |
Standar produk kompleks dengan sub-assembly |
Empat jenis tersebut bukan merupakan daftar yang lengkap. Kamus ASCM (Association for Supply Chain Management) edisi ke-18 mencantumkan enam format tampilan Bill of Materials; dua di antaranya adalah single-level dan indented, sementara sisanya merupakan varian untuk kebutuhan khusus seperti modular (planning) BOM dan costed BOM.
Dalam praktik, ketidaksinkronan antara EBOM dan MBOM setelah revisi desain sering ditemukan saat penataan master data produksi. Kedua dokumen tersebut merupakan dokumen paralel yang sah untuk produk yang sama.
Struktur BOM bertingkat dibaca berdasarkan level: Level 0 merupakan produk jadi, Level 1 adalah sub-assembly, dan Level 2 terdiri dari komponen atau bahan baku. Setiap baris mencantumkan kode item, deskripsi, kuantitas, dan satuan terhadap satu base quantity (kuantitas dasar produk jadi). Tabel berikut mengilustrasikan BOM kursi kantor dengan base quantity satu unit.
|
0 |
FG-100 |
Kursi kantor (produk jadi) |
1 |
unit |
|
1 |
SA-110 |
Rakitan dudukan |
1 |
unit |
|
2 |
RM-111 |
Busa dudukan |
1 |
pcs |
|
2 |
RM-112 |
Kain pelapis |
0,8 |
m² |
|
1 |
SA-120 |
Rakitan kaki |
1 |
unit |
|
2 |
RM-121 |
Roda kastor |
5 |
pcs |
|
2 |
RM-122 |
Gas lift |
1 |
pcs |
|
2 |
RM-123 |
Baut M8 |
4 |
pcs |
Dua catatan dari tabel ini.
Pertama, komponen yang digunakan pada lebih dari satu sub-assembly akan muncul berulang pada setiap induknya dan tidak digabungkan dalam satu baris. Kedua, elemen minimum pada setiap baris meliputi kode item, deskripsi, kuantitas per base quantity, satuan, dan level. Praktik yang disiplin juga menambahkan nomor revisi.
Struktur ini akan digunakan oleh sistem perencanaan kebutuhan material.
Kesalahan kuantitas pada satu baris BOM dapat menyebabkan pesanan pembelian yang tidak akurat, ketidakseimbangan stok, dan perhitungan harga pokok yang salah. Menurut materi resmi SAP Learning, BOM digunakan secara bersamaan oleh empat proses inti: perencanaan kebutuhan material, produksi, pengadaan, dan product costing (perhitungan biaya produk).
Hubungan dengan MRP (Material Requirements Planning) terjadi melalui mekanisme explode, di mana sistem mengurai struktur BOM berdasarkan jadwal produksi untuk menghitung identitas dan kuantitas komponen pada setiap level. Sebagai contoh, dari pesanan 100 kursi pada ilustrasi di atas, MRP menghasilkan kebutuhan 500 roda kastor, 400 baut M8, dan 80 m² kain pelapis.
Angka kebutuhan tersebut menjadi dasar bagi pembuatan pesanan pembelian dan penyiapan stok dalam manajemen gudang.
BOM yang tidak dikelola dengan baik, seperti komponen usang yang tidak dihapus atau revisi desain yang tidak diperbarui, dapat menyebabkan sistem yang paling canggih sekalipun menghasilkan rencana yang tidak akurat.
Kegagalan tersebut bukan disebabkan oleh perangkat lunak, melainkan oleh kurangnya disiplin dalam pengelolaan data.
Ketika struktur produk menjadi multi-level dan revisi desain semakin sering terjadi, BOM yang dikelola di spreadsheet dengan cepat menjadi tidak sinkron dengan stok dan pembelian. Oleh karena itu, perusahaan memusatkan BOM sebagai master data di ERP (Enterprise Resource Planning). Dalam SAP S/4HANA Manufacturing, BOM terdiri atas BOM header yang memuat base quantity dan BOM item; satu struktur ini menjadi acuan bersama bagi keempat proses yang telah disebutkan.
BOM produksi adalah sebutan sehari-hari untuk Manufacturing BOM (MBOM): daftar material sebagaimana produk benar-benar dibuat di lantai produksi, termasuk kemasan dan urutan perakitan. MBOM berbeda dari Engineering BOM (EBOM) yang menggambarkan produk sebagaimana dirancang; satu produk lazim memiliki dua dokumen paralel ini.
Single-level BOM hanya menampilkan satu tingkat, yaitu produk jadi beserta komponen langsungnya. Multi-level (indented) BOM menampilkan seluruh struktur bertingkat Level 0-1-2 dan seterusnya, mengikuti sub-assembly sampai bahan baku terbawah, seperti contoh kursi kantor dengan 8 baris pada tabel di atas.
BOM adalah salah satu input utama MRP (Material Requirements Planning). Sistem MRP meng-explode struktur BOM dari jadwal produksi untuk menghitung kebutuhan tiap komponen per level; pesanan 100 kursi kantor pada contoh di atas diterjemahkan menjadi kebutuhan 500 roda kastor dan 400 baut M8.
Perusahaan yang memperlakukan BOM sebagai dokumen statis sering kali baru menyadari pentingnya ketika lini produksi terhenti akibat satu komponen tidak terpesan. Pemilihan jenis BOM sebaiknya disesuaikan dengan fungsi dokumen dan kedalaman struktur, serta akurasinya harus dijaga dengan disiplin yang sama seperti pengelolaan stok. Sebagai SAP Platinum Partner melalui keanggotaan United VARs, Soltius mengimplementasikan dan mendampingi SAP S/4HANA Manufacturing di berbagai industri, termasuk otomotif, consumer products, dan mill products, serta penataan master data produksi seperti BOM.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai penataan BOM dan kesiapan SAP S/4HANA Manufacturing di perusahaan, silakan kunjungi soltius.co.id.