Setiap staf pengadaan harus membuat keputusan berulang tentang jumlah yang harus dipesan setiap kali. Jika memesan terlalu sering, biaya administrasi dan pengiriman akan naik. Jika memesan terlalu banyak, modal terikat di gudang dan biaya penyimpanan meningkat. Banyak keputusan masih mengikuti kebiasaan. Economic order quantity memberi solusi lewat perhitungan. Artikel ini membahas rumus EOQ, contoh perhitungan, tabel perbandingan biaya, serta asumsi yang membatasinya.
Singkatnya, economic order quantity (EOQ) adalah jumlah pemesanan yang menekan total biaya persediaan dengan menyeimbangkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. Nilai EOQ dihitung memakai rumus akar kuadrat dari 2 dikali permintaan tahunan dikali biaya per pesanan, lalu dibagi biaya penyimpanan per unit. Jadi, jumlah pesanan ditentukan berdasarkan data biaya, bukan kebiasaan.
Rumus EOQ hanya memakai tiga variabel. Ketiganya adalah permintaan tahunan, biaya per pesanan, dan biaya penyimpanan per unit per tahun. Harga beli per unit dan lead time, yaitu waktu tunggu pengiriman, tidak masuk dalam hitungan dasar. Model ini diperkenalkan oleh Ford W. Harris pada 1913. R. H. Wilson menganalisisnya, sehingga rumus ini sering disebut Wilson formula.
Sebagai keputusan pengadaan dalam proses manajemen rantai pasokan, EOQ membutuhkan tiga angka yang biasanya sudah dimiliki tim persediaan. Rumusnya tetap sama di berbagai sumber operasi, termasuk Corporate Finance Institute.
EOQ = √(2DS ÷ H), dengan D adalah permintaan tahunan (unit), S biaya per pesanan, dan H biaya penyimpanan per unit per tahun.
Berikut adalah ilustrasi. Seorang distributor memiliki permintaan tahunan yang stabil. Biayanya juga tercatat dengan baik.
Dua komponen biaya bergerak berlawanan terhadap ukuran pesanan. Saat jumlah pesanan bertambah, biaya pemesanan tahunan turun karena frekuensi pesanan lebih sedikit. Namun, biaya penyimpanan naik karena stok rata-rata lebih banyak. EOQ adalah titik di mana kedua biaya ini sama besar, dan total biaya menjadi paling rendah. Ini adalah manfaat utama EOQ.
Tabel berikut memakai angka contoh yang sama dan menunjukkan biaya total di tiga ukuran pesanan:
|
500 |
10× |
Rp1.000.000 |
250 |
Rp250.000 |
Rp1.250.000 |
|
1.000 (EOQ) |
5× |
Rp500.000 |
500 |
Rp500.000 |
Rp1.000.000 |
|
2.000 |
2,5× |
Rp250.000 |
1.000 |
Rp1.000.000 |
Rp1.250.000 |
Pada EOQ, biaya pemesanan sama dengan biaya penyimpanan. Masing-masing sebesar Rp500.000. Total biayanya Rp1.000.000. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan Rp1.250.000 pada kuantitas 500 atau 2.000. Kesamaan kedua biaya ini muncul karena rumus EOQ. Hal ini membentuk kurva biaya berbentuk U.
Rumus EOQ itu sederhana karena memakai asumsi yang jarang sepenuhnya terjadi di lapangan. Jadi, hasil EOQ sebaiknya dipakai sebagai patokan, bukan angka pasti. Empat asumsi berikut sering tidak terpenuhi dan bisa memengaruhi jumlah optimal jika kondisinya berubah.
Karena keterbatasan itu, EOQ digunakan bersama safety stock (stok pengaman) dan reorder point untuk menutupi ketidakpastian yang tidak dimodelkan. Pembagiannya sederhana. EOQ menentukan berapa banyak yang dipesan, sedangkan reorder point menentukan kapan harus memesan kembali. Ketiganya bekerja dalam manajemen gudang yang menjaga tingkat stok tetap terkendali.
EOQ bukan perhitungan yang dilakukan sekali di spreadsheet. Nilainya berubah saat permintaan atau struktur biaya berubah. Dalam sistem ERP, EOQ menjadi parameter lot-sizing yang dihitung ulang secara otomatis. EOQ bukan angka tetap yang ditetapkan sekali lalu diabaikan.
Di SAP S/4HANA, EOQ adalah salah satu prosedur penentuan ukuran lot yang paling efisien untuk perencanaan kebutuhan material. Sistem menghitung ukuran lot yang menurunkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan, asalkan kedua biaya tersebut tercatat dalam data material sesuai SAP Help Portal. Untuk perencanaan persediaan antarproduk dan antarlokasi, perusahaan menggunakan SAP Integrated Business Planning, atau SAP IBP.
Rumus EOQ adalah akar kuadrat dari (2 kali permintaan tahunan dikali biaya per pesanan) dibagi biaya penyimpanan per unit. Ditulis EOQ = √(2DS/H). Contoh, permintaan 5.000 unit, biaya pesan Rp100.000, dan biaya simpan Rp1.000 per unit menghasilkan EOQ = √1.000.000. Hasilnya 1.000 unit per pesanan.
Keduanya adalah alat persediaan yang saling melengkapi. EOQ menjawab berapa yang dipesan per pesanan. Hasilnya adalah kuantitas per PO. ROP menjawab kapan memesan. Hasilnya adalah level stok pemicu. EOQ menentukan ukuran pesanan. ROP menentukan waktunya. Keduanya digunakan bersama dalam satu kebijakan pengisian ulang.
EOQ menganggap permintaan selalu tetap dan sudah diketahui. Biaya pemesanan dan penyimpanan juga tetap. Tidak ada diskon kuantitas. Penerimaan barang dilakukan sekaligus agar tidak kehabisan stok. Karena asumsi ini jarang benar sepenuhnya, EOQ digunakan sebagai patokan yang dilengkapi safety stock dan reorder point, bukan sebagai jumlah pesanan yang pasti.
Menentukan jumlah pesanan berdasarkan kebiasaan dapat membuat biaya sebenarnya tidak terlihat dengan jelas. EOQ mengubah hal ini menjadi angka yang pasti. EOQ menunjukkan titik di mana biaya pemesanan dan biaya penyimpanan seimbang, sehingga total biaya menjadi minimum. Hal ini berlaku selama asumsinya terpenuhi dan didukung oleh safety stock serta reorder point. Sebagai SAP Platinum Partner melalui keanggotaan United VARs, Soltius telah berpengalaman sejak 1998. Soltius membantu mengimplementasikan dan mendampingi perencanaan rantai pasok SAP, seperti SAP IBP, untuk perusahaan manufaktur dan distribusi.
Untuk mendiskusikan penerapan Economic Order Quantity dan perencanaan persediaan menggunakan SAP IBP, silakan kunjungi soltius.co.id.