Manajer pabrik yang ingin menekan biaya sering kali fokus pada pengurangan tenaga kerja atau penekanan harga bahan baku. Namun, biaya terbesar sering tersembunyi dalam pemborosan yang tidak tercatat, seperti penumpukan barang yang menunggu proses atau produksi yang melebihi permintaan. Lean manufacturing menyediakan pendekatan untuk mengidentifikasi dan mengurangi pemborosan ini, serta kini semakin terintegrasi dengan manufaktur digital. Artikel ini membahas lima prinsip lean, tujuh waste, dan penerapannya di lantai produksi.
Lean manufacturing adalah pendekatan produksi yang memaksimalkan nilai bagi pelanggan dengan menghilangkan pemborosan (waste). Berbasis pada Toyota Production System, metode ini menerapkan lima prinsip lean dan perbaikan berkelanjutan (kaizen), sehingga sumber daya digunakan hanya untuk aktivitas yang bernilai bagi pelanggan.
Kelima prinsip lean adalah urutan cara berpikir yang saling membangun, bukan hanya daftar. Womack dan Jones menyusunnya dalam buku Lean Thinking (1996) berdasarkan studi tentang Toyota Production System yang Taiichi Ohno kembangkan sejak 1950-an. Peneliti MIT mempopulerkan istilah “lean” lewat buku The Machine That Changed the World (1990).
Urutan itu penting. Sebelum tahu apa yang bernilai bagi pelanggan, sebuah pabrik tidak punya patokan untuk memisahkan kerja bernilai dari pemborosan.
Ketujuh waste merupakan target konkret dari kelima prinsip lean dan sering diingat dengan akronim TIMWOOD. Pengurangan waste bukan proyek satu kali, melainkan bagian dari kaizen harian: perbaikan kecil yang dijalankan oleh operator yang terlibat langsung dalam proses, bukan hanya oleh tim ahli.
|
Transportation (Transportasi) |
Memindahkan material lebih dari yang perlu |
Bahan bolak-balik antar-gudang karena tata letak buruk |
|
Inventory (Persediaan) |
Stok atau WIP berlebih yang mengikat modal |
Tumpukan barang setengah jadi menunggu diproses |
|
Motion (Gerakan) |
Gerakan operator yang tidak perlu |
Berjalan mencari alat yang tak punya tempat tetap |
|
Waiting (Menunggu) |
Waktu menganggur di dalam proses |
Lini berhenti menunggu material atau instruksi |
|
Overproduction (Overproduksi) |
Memproduksi lebih banyak atau lebih awal dari permintaan |
Waste paling kritis; memicu enam waste lain |
|
Overprocessing (Proses berlebih) |
Pekerjaan atau toleransi melebihi kebutuhan pelanggan |
Finishing yang tidak dinilai pelanggan |
|
Defects (Cacat) |
Produk cacat yang harus di-rework atau dibuang |
Biaya ganda: bahan terbuang plus pengerjaan ulang |
Menurut Lean Enterprise Institute, otoritas lean global, overproduction adalah bentuk pemborosan terburuk. Overproduction menjadi penyebab utama inventory dan waiting. Karena itu, mengatasi overproduction lebih dulu biasanya memberi dampak paling besar.
Penerapan lean tidak dimulai dari alat, melainkan dari melihat. Petakan value stream untuk menemukan di mana pemborosan bersembunyi, lalu pilih alat yang sesuai: 5S untuk gerakan dan pencarian, kanban untuk overproduction, value stream mapping untuk aliran. Manfaatnya menyusul: biaya turun, kualitas naik, respons terhadap permintaan lebih cepat.
Urutan yang lazim di lapangan:
Banyak orang salah paham dan mengira lean adalah program untuk memangkas jumlah karyawan. Padahal, lean justru membutuhkan operator yang sama untuk menjalankan kaizen. Jika lean dianggap hanya sebagai proyek pemotongan biaya sementara, 5S dan value stream mapping hanya akan efektif di awal lalu ditinggalkan. Lean berhasil jika ada budaya perbaikan berkelanjutan di lini produksi, bukan hanya dengan memakai alat.
Pemborosan hanya dapat diatasi jika terlihat. SAP Digital Manufacturing menghubungkan lantai produksi ke ERP sehingga tumpukan WIP, waktu tunggu, dan cacat dapat dipantau secara near-real-time, bukan hanya terdeteksi saat rekap bulanan. Menurut SAP, platform ini berfungsi sebagai lapisan visibilitas dan analitik, bukan pengganti budaya kaizen.
Lean berfokus pada penghilangan tujuh waste dan mempercepat aliran, sedangkan Six Sigma berfokus pada pengurangan variasi dan cacat secara statistik, dengan target di bawah 3,4 cacat per sejuta peluang. Keduanya saling melengkapi dan sering digabung menjadi Lean Six Sigma: lean mempercepat proses, Six Sigma memastikan konsistensi.
Kaizen (bahasa Jepang: “perubahan menjadi lebih baik”) adalah budaya perbaikan terus-menerus lewat langkah-langkah kecil yang dijalankan oleh semua karyawan, terutama operator. Kaizen adalah penerapan prinsip kelima lean, yaitu kesempurnaan. Tidak ada kondisi “sudah selesai”. Perbaikan berlangsung terus-menerus tanpa akhir.
Tiga jenis pemborosan (“3M”) dalam Toyota Production System: muda (aktivitas tanpa nilai, inilah tujuh waste), mura (ketidakrataan beban atau aliran), dan muri (beban berlebih pada orang atau mesin). Tujuh waste yang populer sebenarnya hanya kategori muda; mura dan muri sering terlewat.
Pemborosan yang tidak tercatat dalam laporan jarang berkurang hanya dengan alat baru. Pengurangan terjadi ketika lima prinsip lean dijalankan secara konsisten dan pemborosan dibuat terlihat. Lean manufacturing pada dasarnya adalah disiplin perbaikan berkelanjutan, bukan sekadar proyek sementara. Sebagai SAP Platinum Partner melalui United VARs dan berpengalaman sejak 1998, Soltius mengimplementasikan serta mendampingi SAP Digital Manufacturing untuk memberikan visibilitas near-real-time di lantai produksi berbagai industri manufaktur.
Untuk mendiskusikan penerapan lean manufacturing dan peningkatan visibilitas lantai produksi melalui SAP Digital Manufacturing di perusahaan Anda, silakan kunjungi soltius.co.id.