Seorang staf pricing menetapkan markup 50% dan menganggarkan laba seolah-olah marginnya juga 50%, padahal margin sebenarnya hanya 33,3%. Markup dan margin sering tertukar karena keduanya mengukur selisih antara harga jual dan biaya, namun menggunakan penyebut yang berbeda. Dalam bisnis dengan ribuan produk, kesalahan ini bisa mengurangi profit tanpa disadari. Artikel ini membahas rumus, konversi, dan penggunaannya secara terpisah.
Singkatnya, markup dan margin sama-sama mengukur selisih antara harga jual dan harga pokok (HPP), tetapi dasar perhitungannya berbeda. Markup adalah persentase kenaikan atas biaya. Markup digunakan untuk menetapkan harga jual. Margin adalah persentase laba terhadap harga jual. Margin digunakan untuk mengukur profitabilitas. Pada transaksi yang sama, persentase markup selalu lebih besar daripada margin.
Laba dalam rupiah tetap sama. Yang membedakan hanya penyebutnya. Markup membagi selisih antara harga jual dan HPP dengan biaya, sedangkan margin membaginya dengan harga jual. Seluruh perbedaan angka berasal dari perbedaan penyebut ini.
Tiga rumus berikut mencakup sebagian besar kebutuhan penetapan harga:
Sebagai contoh, sebuah produk dengan HPP Rp80.000 dan markup 50% akan menghasilkan tambahan Rp40.000. Harga jualnya menjadi Rp120.000. Laba kotornya Rp40.000. Namun, margin atas harga jual itu hanya Rp40.000 ÷ Rp120.000 = 33,3%.
|
HPP (harga pokok) |
Rp80.000 |
|
Markup |
50% → Rp40.000 |
|
Harga jual |
Rp120.000 |
|
Laba kotor |
Rp40.000 |
|
Margin |
33,3% |
Perlu dicatat, laba rupiah tetap Rp40.000. Namun, persentasenya berbeda. Markup 50%, dan margin 33,3%. Menurut Shopify, markup dihitung dari biaya, sedangkan margin dihitung dari harga jual. Satu transaksi yang sama dapat menghasilkan persentase yang berbeda. Persentase markup selalu lebih besar daripada margin.
Markup membagi laba dengan biaya yang lebih kecil. Margin membagi laba yang sama dengan harga jual yang lebih tinggi. Penyebut yang lebih besar memberi persentase lebih kecil. Karena itu, pada setiap transaksi, persentase markup selalu lebih tinggi daripada margin.
Hubungan itu bisa dihitung dua arah dengan rumus konversi:
Tabel berikut menerjemahkan markup yang lazim dipakai ke margin setaranya:
|
20% |
16,7% |
|
25% |
20% |
|
50% |
33,3% |
|
100% |
50% |
|
150% |
60% |
Baris terakhir menegaskan polanya. Markup harus mencapai 150% agar margin hanya 60%. Semakin tinggi target, selisih antara kedua angka semakin besar. Hal ini membuat risiko kesalahan penganggaran meningkat.
Markup digunakan untuk menetapkan harga ke depan. Ini mengubah biaya menjadi harga jual. Margin digunakan untuk mengukur profitabilitas. Ini menilai laba yang diperoleh dari penjualan. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda dan saling melengkapi.
Pemetaan singkat kapan memilih yang mana:
Dalam praktik, satu tim bisa memakai keduanya dalam satu hari. Markup digunakan saat menetapkan harga. Margin digunakan saat membuat laporan bulanan. Masalah muncul jika kedua angka ini dianggap sama.
Kesalahan paling merugikan adalah menetapkan markup lalu menghitung laba seolah-olah itu margin. Mengira markup 50% sama dengan margin 50% membuat perusahaan melebih-lebihkan laba sebesar 16,7 poin persentase. Margin yang sebenarnya hanya 33,3%. Pada penetapan harga massal, perbedaan ini bisa menurunkan keuntungan dan sering tidak terlihat pada transaksi satu per satu.
Untuk ribuan SKU, menghitung harga satu per satu secara manual tidak efisien. Sistem ritel modern memakai aturan penetapan harga, bukan mengandalkan ingatan orang. Menurut SAP Learning, di SAP S/4HANA Retail, harga jual berasal dari harga beli yang ditambah markup yang sudah ditetapkan. Sistem juga secara otomatis menghitung margin kotor dan margin bersih. Dengan cara ini, aturan markup dan margin tetap sama di seluruh katalog dan marginnya bisa diaudit, seperti yang dilakukan bisnis ritel besar dengan solusi retail.
Keduanya mengukur selisih harga jual dan harga pokok dalam rupiah. Namun, markup dihitung berdasarkan biaya (HPP), sedangkan margin dihitung berdasarkan harga jual. Karena biaya lebih kecil dari harga jual, persentase markup selalu lebih besar. Misalnya, markup 50% setara dengan margin 33,3%.
Gunakan rumus: Margin = Markup/(1 + Markup). Contoh: markup 50% (0,50) menjadi 0,50 dibagi 1,50 sama dengan 33,3%. Sebaliknya, gunakan Markup = Margin/(1 - Margin). Rumus ini membantu agar target harga dan laba tidak tertukar saat digunakan bersama.
Keduanya digunakan untuk tujuan berbeda. Gunakan markup untuk menetapkan harga jual dari biaya, atau cost-plus pricing. Gunakan margin untuk mengukur dan membandingkan profitabilitas, seperti yang tercantum dalam laporan laba rugi. Menyamakan keduanya bisa menyebabkan kelebihan estimasi laba sampai 16,7 poin persentase.
Markup dan margin adalah dua hal yang berbeda. Satu digunakan untuk menetapkan harga, satu lagi untuk mengukur laba. Selama penyebutnya dipahami, keduanya dapat digunakan dengan baik. Sebagai SAP Platinum Partner melalui United VARs sejak 1998, Soltius mengimplementasikan dan mendampingi solusi ritel SAP. Ini termasuk penataan logika penetapan harga agar margin tetap konsisten dan dapat diaudit.
Untuk membahas penetapan harga yang konsisten pada SAP S/4HANA Retail, silakan kunjungi soltius.co.id.