Vendor sering menyebut tiga istilah sekaligus: public cloud, private cloud, dan hybrid cloud. Bagi tim arsitektur, memilih antara public, private, atau hybrid cloud bukan hanya soal istilah. Ini adalah keputusan penting yang menentukan lokasi data sensitif, biaya, dan fleksibilitas kapasitas. Artikel ini membandingkan ketiganya secara berdampingan. Selain itu, artikel ini memberikan kerangka pemilihan sebagai pendalaman topik layanan cloud.
Singkatnya, public cloud, private cloud, dan hybrid cloud adalah tiga model deployment cloud menurut NIST SP 800-145. Public cloud memakai sumber daya bersama milik penyedia, jadi multi-tenant. Private cloud hanya untuk satu organisasi, single-tenant. Hybrid cloud menghubungkan keduanya supaya data dan aplikasi bisa berpindah antar lingkungan.
Ketiga model ini tidak hanya berbeda dalam hal berbagi atau privat. Perbedaannya juga meliputi tenancy, kontrol dan kustomisasi, lokasi dan kedaulatan data, biaya, latency, serta skalabilitas. Karena itu, cara membandingkan yang efektif adalah memetakan kebutuhan beban kerja Anda pada setiap dimensi, bukan hanya melihat definisi tiap model.
|
Tenancy (NIST) |
Multi-tenant, dibagi banyak organisasi |
Single-tenant, didedikasikan satu organisasi |
Kombinasi keduanya, saling terhubung |
|
Lokasi & kedaulatan data |
Di premis penyedia |
On-premise atau off-premise, bisa pihak ketiga |
Data sensitif ditahan di sisi private |
|
Kontrol & kustomisasi |
Paling rendah (standar penyedia) |
Paling tinggi (kendali penuh) |
Per beban kerja |
|
Profil biaya |
OpEx, bayar sesuai pemakaian |
Komitmen/CapEx lebih besar di muka |
Campuran |
|
Latency & kontrol lokasi |
Bergantung region penyedia |
Dapat didekatkan ke pengguna/pabrik |
Beban latency-sensitif di private/edge |
|
Skalabilitas |
Paling elastis dan cepat |
Terbatas kapasitas terpasang |
Elastis di sisi public (cloud bursting) |
|
Paling cocok saat |
Beban fluktuatif, butuh cepat |
Regulasi/kontrol ketat, beban stabil |
Sebagian data terkendali, sisanya elastis |
Dua hal sering disalahpahami. Pertama, private cloud tidak sama dengan server di kantor sendiri. NIST SP 800-145, standar rujukan yang terbit pada September 2011 dan memuat empat model deployment serta tiga model layanan, menyatakan private cloud boleh berada on-premise atau off-premise dan dioperasikan pihak ketiga. Yang penting adalah private cloud didedikasikan untuk satu organisasi.
Kedua, NIST juga menyebut community cloud sebagai model keempat. Model ini memang jarang digunakan secara komersial di Indonesia.
Pilih model cloud sesuai kebutuhan setiap beban kerja. Jangan buat satu keputusan untuk seluruh perusahaan. Pertimbangkan lima hal utama: kedaulatan atau kepatuhan data, biaya, latency, kontrol, dan skalabilitas. Dua perusahaan bisa saja punya beban kerja yang sama, tetapi memilih model berbeda karena prioritas kelima hal itu tidak selalu sama. Berikut panduan praktisnya.
Kewajiban perlindungan data pribadi, khususnya UU No. 27 Tahun 2022, sering mendorong penggunaan private atau hybrid cloud. Hal ini terutama terjadi di sektor keuangan dan kesehatan. Saat ini, pola hybrid menjadi dominan. Menurut Flexera 2026 State of the Cloud Report, 73% organisasi menggunakan hybrid cloud. Angka ini naik sekitar tiga poin dari tahun sebelumnya.
Begitu yang dipindah adalah sistem inti, yaitu ERP yang menjalankan keuangan, persediaan, dan produksi. Pilihan deployment menentukan ruang kustomisasi, jalur kepatuhan, dan rencana downtime. Di lanskap SAP, program RISE with SAP membawa SAP S/4HANA Cloud dalam dua edisi yang memetakan sumbu ini secara langsung.
Private Edition adalah single-tenant dengan ruang kustomisasi lebih luas. Kontrol jadwal upgrade ada di tangan pelanggan. Public Edition adalah multi-tenant SaaS dengan upgrade otomatis dua kali setahun. Bagi perusahaan yang mempertimbangkan langkah ini, migrasi ERP ke cloud merupakan kelanjutan logis dari keputusan deployment.
Perlu dicatat, hybrid cloud tidak selalu memberi keunggulan dari kedua model. Hybrid menambah kerumitan integrasi, pengelolaan dua lingkungan, dan biaya pengelolaan.
Hybrid juga berbeda dari multicloud. Hybrid mencampur public dan private yang terhubung. Multicloud memakai beberapa public cloud sekaligus dan bisa tanpa private sama sekali. Keduanya sering tertukar.
Hybrid cloud menggabungkan public dan private cloud yang terhubung agar beban kerja bisa berpindah antar lingkungan. Multicloud memakai beberapa public cloud dari penyedia berbeda dan bisa berjalan tanpa private cloud. Menurut Flexera 2026, 73% organisasi memakai hybrid cloud. Hanya sekitar 14% yang benar-benar multicloud. Satu perusahaan bisa memakai keduanya sekaligus.
Tidak ada model cloud yang otomatis paling aman. Keamanan tergantung pada pengaturan, pembagian tanggung jawab, dan kepatuhan. Private atau hybrid cloud sering dipilih untuk data sensitif karena perusahaan bisa mengatur lokasi data. Hal ini sesuai dengan UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. Data dan identitas tetap menjadi tanggung jawab perusahaan pada semua model.
Tidak. Menurut NIST SP 800-145, private cloud bisa berada on-premise atau off-premise dan bisa dijalankan oleh pihak ketiga. Yang penting adalah layanan ini hanya untuk satu organisasi (single-tenant), bukan lokasi fisik servernya. Private cloud yang dihosting di data center penyedia juga tetap tergolong private selama dipakai khusus oleh satu organisasi.
Pertanyaan utama bukan hanya memilih antara public, private, atau hybrid cloud. Yang penting adalah menentukan model yang paling cocok untuk setiap beban kerja dengan mempertimbangkan kedaulatan data, biaya, latency, kontrol, dan skalabilitas. Untuk sistem inti, keputusan ini sangat penting. Sebagai Best RISE & Best Cloud Partner (2021) dengan pengalaman sejak 1998, Soltius mendampingi migrasi sistem inti ke cloud lewat RISE with SAP dan layanan Migration. Soltius juga memetakan setiap beban kerja ke model cloud yang paling sesuai.
Untuk membahas model deployment yang paling cocok untuk beban kerja dan sistem utama Anda, silakan kunjungi soltius.co.id.