Stock opname sering kali tidak akurat karena kode produk yang tidak konsisten, bukan karena kelalaian tim. Misalnya, dua produk dengan nama “Kaos Polos Hitam” namun ukuran berbeda dapat menyebabkan kesalahan pengambilan barang. Artikel ini membahas fungsi SKU, perbedaannya dengan barcode, serta aturan penomoran yang dapat langsung diterapkan.
SKU (stock-keeping unit) adalah kode unik alfanumerik yang dibuat oleh sebuah bisnis untuk mengidentifikasi setiap varian produk yang dapat dijual dan disimpan merek, kategori, warna, hingga ukuran. Berbeda dari barcode yang berlaku global, SKU bersifat internal dan sepenuhnya dirancang oleh perusahaan yang memakainya, sehingga dua peritel bisa memakai kode berbeda untuk barang yang sama.
Fungsi utama SKU adalah menjadi kunci penghubung antarproses, bukan sekadar label di rak. Satu kode yang sama dipakai tim gudang saat memetik barang, kasir saat menjual, dan analis saat membaca laporan penjualan. Selama kodenya konsisten, ketiga proses itu berbicara tentang barang yang persis sama.
Pembedanya adalah siapa yang menerbitkan. SKU Anda buat sendiri; GTIN (Global Trade Item Number) ditetapkan oleh pemilik merek dari rentang nomor yang dilisensikan melalui GS1 dan berlaku global; barcode hanyalah cara mesin membaca nomor tersebut tanpa salah ketik. Ketiganya kerap disamakan, padahal perannya berbeda.
|
Siapa yang membuat |
Peritel/brand sendiri, bebas dirancang |
Pemilik merek, mengikuti standar GS1 |
Pemilik merek, dari rentang nomor yang dilisensikan GS1 |
|
Sifat pemakaian |
Internal, hanya berlaku di bisnis Anda |
Media baca |
Global, satu nomor di mana pun |
|
Format |
Alfanumerik bebas (lazimnya 8–12 karakter) |
Simbol garis atau 2D (UPC-A, EAN-13) |
Numerik: 8, 12, 13, atau 14 digit |
|
Tujuan utama |
Manajemen stok dan analisis internal |
Agar mesin membaca nomor tanpa salah ketik |
Identifikasi produk unik secara global |
Menurut GS1 US, otoritas global untuk identifikasi unik produk, dua peritel bisa menjual barang sama dengan kode UPC (Universal Product Code) identik, tetapi masing-masing tetap memakai nomor SKU sendiri.
Kode SKU yang efektif disusun dari elemen umum ke spesifik, dengan merek dan kategori di awal serta varian di akhir. Struktur ini sebaiknya ditetapkan sejak awal, karena perubahan skema setelah ribuan produk terdaftar akan memerlukan penomoran ulang pada label, katalog, dan riwayat penjualan. Konsistensi aturan lebih penting daripada kreativitas dalam pembuatan kode.
Sebagai ilustrasi, merek fiktif Nordika menggunakan kode NRD-KP-HTM-M untuk kaos polos hitam ukuran M.
|
Merek |
Nordika (ilustrasi) |
NRD |
|
Kategori |
Kaos polos |
KP |
|
Warna |
Hitam |
HTM |
|
Ukuran |
M |
M |
Skema ini dapat diperluas secara otomatis. Satu model kaos dengan tiga warna (HTM, PTH, NVY) dan empat ukuran (S, M, L, XL) menghasilkan 12 SKU, dari NRD-KP-HTM-S hingga NRD-KP-NVY-XL, semuanya menggunakan awalan NRD-KP- agar tersusun berurutan.
Enam aturan berikut menjaga konsistensi skema SKU:
SKU tidak seharusnya memuat informasi seperti harga, jumlah stok, atau nama pemasok. Jika data tersebut berubah, kode menjadi usang. Kode yang terlalu deskriptif juga memperlambat input harian.
Pada skala ribuan varian, penomoran manual sering gagal bukan karena aturan yang salah, tetapi karena kurangnya penegakan konsistensi. Skema biasanya mulai berantakan ketika lebih dari satu orang menambahkan produk tanpa mengikuti aturan yang sama, sehingga duplikat dan kesalahan input dapat terjadi.
ERP ritel menangani ini lewat master data produk berjenjang. Di SAP S/4HANA Retail, produk induk (generic article) menurunkan varian warna dan ukuran secara otomatis, dan menurut dokumentasi SAP, nomor varian secara standar dibentuk dari nomor artikel induk ditambah sufiks urut tiga digit. Varian itulah yang mewakili barang fisik di seluruh proses bisnis. Skemanya ditegakkan oleh sistem, bukan ingatan orang.
SKU adalah kode internal untuk mengelola stok. Barcode adalah representasi visual yang dibaca mesin; angka yang dikodekannya, yaitu GTIN, diterbitkan lewat GS1 dan berlaku global. Menurut GS1 US, dua peritel bisa memakai UPC sama dengan nomor SKU berbeda.
Tidak ada standar resmi; setiap perusahaan menentukan formatnya sendiri. Praktik yang lazim di lapangan berkisar 8–12 karakter: cukup memuat merek, kategori, dan varian tanpa menyulitkan input manual. Syarat yang wajib hanya tiga: unik, konsisten formatnya, dan tidak diawali angka nol.
Tidak. SKU sepenuhnya internal, tanpa perlu mendaftar ke lembaga mana pun. Yang diterbitkan lewat GS1 adalah GTIN, nomor global pada barcode, dengan empat struktur sepanjang 8, 12, 13, atau 14 digit. Sejumlah kanal ritel dan marketplace mensyaratkan GTIN untuk listing produk.
Ketidaksesuaian hasil stock opname umumnya disebabkan oleh kode produk yang tidak teratur, bukan kelalaian tim. Skema SKU yang konsisten dan ditegakkan sejak awal dapat mencegah sebagian besar masalah, sementara sistem akan menjaga konsistensi saat jumlah varian melebihi kapasitas spreadsheet. Sebagai SAP Platinum Partner melalui United VARs dan berpengalaman sejak 1998, Soltius menyediakan implementasi dan pendampingan solusi retail berbasis SAP, termasuk penataan master data produk.
Untuk konsultasi mengenai penataan SKU dan master data produk di SAP S/4HANA Retail, silakan kunjungi soltius.co.id.