span 1 span 2 span 3

Reorder Point (ROP): Rumus dan Contoh Perhitungannya

Stok yang menipis umumnya dapat diprediksi. Kendala pemenuhan pesanan pelanggan sering terjadi karena keputusan pemesanan diambil terlambat, yaitu saat pesanan pembelian (PO) baru dibuat ketika stok hampir habis, sementara proses pengiriman dan pembelian memerlukan waktu beberapa hari. Reorder point menentukan waktu yang tepat untuk melakukan pemesanan. Artikel ini membahas rumus, contoh perhitungan, dan peran reorder point dalam supply chain management.

Singkatnya, reorder point (ROP) adalah level stok yang memicu pemesanan ulang, yaitu saat sisa barang diperkirakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama pesanan baru diproses dan dikirim. Nilai ROP dihitung berdasarkan permintaan rata-rata selama replenishment lead time ditambah safety stock, sehingga didasarkan pada data konsumsi dan waktu pasok, bukan perkiraan.

Bagaimana Rumus Reorder Point?

Rumus reorder point tersedia dalam dua bentuk: tanpa dan dengan safety stock. Keduanya menggunakan variabel yang sama, hanya berbeda pada penambahan safety stock. Pemilihan rumus bergantung pada stabilitas permintaan dan waktu pasok. Jika keduanya stabil, rumus dasar sudah memadai. Jika salah satu berubah, gunakan rumus dengan safety stock.

Dasar

ROP = Permintaan Harian Rata-rata × Replenishment Lead Time

Permintaan dan lead time relatif stabil, konsekuensi stockout ringan

Dengan pengaman

ROP = (Permintaan Harian Rata-rata × Replenishment Lead Time) + Safety Stock

Permintaan berfluktuasi atau pemasok tidak selalu tepat waktu

Sering kali, yang diabaikan bukan rumusnya, melainkan pemilihan lead time yang tepat. Menurut SAP Learning, replenishment lead time untuk material yang dibeli dari luar terdiri dari tiga komponen: planned delivery time, waktu proses penerimaan barang, dan waktu proses pembelian.

Konsekuensinya jelas: ROP yang hanya dihitung berdasarkan waktu kirim akan selalu terlalu rendah, karena proses persetujuan PO dan pemeriksaan barang juga memerlukan waktu. Safety stock ditambahkan sebagai komponen terpisah dalam perhitungan.

Contoh Perhitungan Reorder Point

Kesalahan perhitungan ROP di lapangan umumnya disebabkan oleh ketidaksesuaian satuan, bukan rumusnya. Misalnya, permintaan dicatat per bulan sementara lead time dihitung per hari, lalu dikalikan tanpa konversi satuan. Contoh berikut menunjukkan perhitungan yang benar dan yang salah satuan.

Sebagai ilustrasi (menggunakan angka simulasi, bukan data aktual): distributor suku cadang memiliki permintaan rata-rata 40 unit per hari, replenishment lead time 12 hari, dan safety stock 90 unit yang telah ditetapkan.

  1. Tanpa pengaman: 40 × 12 = 480 unit.
  2. Dengan pengaman: (40 × 12) + 90 = 570 unit.

Selisihnya adalah 90 unit, sesuai dengan jumlah buffer. Safety stock tidak mengubah logika ROP, melainkan hanya menaikkan titik pemicunya.

Ketika stok tercatat mencapai 570 unit, PO segera dibuat, bukan menunggu hingga stok di gudang tampak menipis.

Berikut contoh perhitungan yang salah. Jika permintaan dicatat 1.200 unit per bulan lalu langsung dikalikan dengan 12 hari, hasilnya 14.400 unit, yaitu 30 kali lipat dari angka yang benar (480 unit). Lakukan konversi terlebih dahulu: 1.200 ÷ 30 = 40 unit per hari. Aturannya jelas, satuan permintaan dan lead time harus konsisten.

Perlu dicatat, ROP yang akurat tetap tidak efektif jika pencatatan stok tidak tepat, karena sistem memicu PO berdasarkan data, bukan kondisi fisik di gudang. Disiplin dalam manajemen gudang adalah syarat utama untuk memastikan pemicu pesanan yang benar.

Apa bedanya Reorder Point dan EOQ?

Reorder point dan EOQ (Economic Order Quantity) sering disamakan, padahal keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda dan tidak saling menggantikan. ROP menentukan kapan harus memesan, menghasilkan level stok. EOQ menentukan jumlah yang dipesan, menghasilkan kuantitas per pesanan. Keduanya juga menggunakan input yang berbeda.

Pertanyaan yang dijawab

Kapan memesan?

Berapa banyak dipesan?

Satuan hasil

Level stok (unit yang memicu PO)

Kuantitas pesanan (unit per PO)

Input utama

Permintaan harian rata-rata, replenishment lead time, safety stock

Permintaan periodik, biaya pemesanan, biaya penyimpanan

Bila salah

Terlalu rendah → stockout; terlalu tinggi → stok mengendap

Terlalu kecil → terlalu sering memesan; terlalu besar → biaya simpan naik

Keduanya digunakan secara bersamaan: ROP menentukan waktu pemesanan, sedangkan EOQ menentukan jumlah pesanan.

Ketika Reorder Point Tidak Bisa Lagi Ditulis di Spreadsheet

Reorder point bukan angka yang bersifat tetap. Nilainya menjadi tidak relevan jika permintaan rata-rata meningkat atau lead time bertambah, dan perubahan ini sering tidak terdeteksi. Di lapangan, ROP sering meleset bukan karena rumusnya salah, tetapi karena nilainya jarang ditinjau ulang.

Dalam ERP (Enterprise Resource Planning), ROP diatur sebagai parameter pada material master, bukan di spreadsheet. SAP Learning menyebutkan dua mode: pada reorder point planning manual, ROP dan safety stock diinput secara manual; pada mode otomatis, sistem menghitung ulang keduanya setiap forecast run, dengan service level pada material master sebagai input perhitungan safety stock.

Pemicu pemesanan juga jelas: pengadaan dilakukan ketika stok ditambah penerimaan terjadwal berada di bawah ROP, sesuai dengan mekanisme yang dijelaskan dalam dokumentasi SAP untuk ERP generasi sebelumnya. Untuk perencanaan persediaan lintas produk dan lokasi, perusahaan umumnya menggunakan SAP Integrated Business Planning (SAP IBP).

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Apa perbedaan reorder point dan safety stock?

Safety stock adalah jumlah cadangan; reorder point adalah titik yang memicu pemesanan. Safety stock merupakan salah satu komponen dalam rumus ROP. Pada ilustrasi artikel ini, buffer 90 unit menaikkan titik pemicu dari 480 menjadi 570 unit.

Apakah reorder point sama dengan stok minimum?

Istilah ini sering digunakan secara bergantian, namun sebenarnya berbeda. Stok minimum biasanya hanya angka kebiasaan, sedangkan ROP memiliki perhitungan yang jelas: permintaan rata-rata selama replenishment lead time ditambah safety stock. Contohnya: 40 unit per hari selama 12 hari ditambah 90 unit menghasilkan 570 unit.

Berapa sering reorder point perlu dihitung ulang?

Tinjau ROP setiap kali terjadi perubahan pada permintaan rata-rata atau lead time, bukan hanya setahun sekali. Pada automatic reorder point planning, dokumentasi SAP menyebutkan bahwa sistem menghitung ulang ROP dan safety stock setiap forecast run, menggunakan service level pada material master.

Kesimpulan

Pada akhirnya, reorder point bukan hanya soal rumus, tetapi juga dua keputusan penting: lead time mana yang dihitung secara akurat, dan seberapa sering nilainya ditinjau ulang. Soltius, SAP Platinum Partner melalui keanggotaan United VARs dan berpengalaman sejak 1998, mengimplementasikan serta mendampingi solusi perencanaan rantai pasok SAP seperti SAP IBP untuk perusahaan manufaktur dan distribusi.

Untuk mendiskusikan perencanaan persediaan dan penerapan SAP IBP di perusahaan Anda, silakan kunjungi soltius.co.id.

Other News

Aug 27, 2026
Account Payable & Account Receivable: Pengertian dan Cara Mengelolanya
Aug 21, 2026
Apa Itu OEE (Overall Equipment Effectiveness) dan Cara Menghitungnya